Hujan Joana

Rambutnya rontok lagi,entah sudah berapa helai rambut yang berjatuhan saat Joana menyisir rambutnya.
            Joana,yea...Joana adalah temanku,sahabatku,sekaligus sepupuku. Anaknya cantik,sedikit tomboy,dan digemari dikalangan laki-laki. Banyak cowok yang mencoba mendekatinya,tapi hingga kini Joana tidak pernah berpacaran,baginya pacaran adalah hal yang sangat menyita waktu. Tetapi tetap saja Joana banyak di dekati para cowok-cowok. Tawanya yang renyah,senyumnya yang mempesona tak urung membuat hati laki-laki manapun kepincut. Sayangnya satu tahun ini keceriaaannya pudar. Dia divonis dokter mengidap kanker otak. Sebagai sepupu tentu aku shock dengan berita itu. Mungkin sejak kecil kami selalu bersama,walaupun umur kami berbeda 2 tahun,tetapi aku sudah menganggapnya sebagai teman sebayaku,ikatan kami sangat kuat,saat dia sakit,dadakupun merasakannya. Penyakit itu menggerogoti tubuhnya,banyak pengobatan yang sudah dicoba,dari operasi pengangkatan kanker,hingga pengobatan alternatifpun jadi pilihan,tetapi tidak ada hasil. Penyakit terkutuk itu masih betah tinggal di tubuh sepupuku itu.
            “hai ? kenapa bengong ? aneh ya ngeliat rambut gue makin lama makin dikit ? hehehe...tenang ini masih permulaan,ntar juga botak !!”
canda Joana membuat dadaku semakin sesak. Hari ini seharusnya aku senang,karena Joana memutuskan untuk pulang kerumah. Tapi,tadi pagi dokter memberitahukan kepada keluarga bahwa Joana sudah memasuki stadium akhir,dan kemungkinan sembuh adalah 18%. Miris memang,tapi itulah kenyataan yang harus kutelan bulat-bulat.
            “Kenapa loe pulang ?? “ tanyaku tiba-tiba,kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.
            “Yyee,gak suka ya gue pulang ? seneng banget loe,biar bisa ngabisin ice cream gue kan....hhuuuu.... “
            “Gue serius Jo,seharusnya loe dirumah sakit,loe gak sayang sama nyawa loe sendiri ?? “   Oh god,apa yang baru ku ucapkan....
            “Maaf.... “ ucapku lirih,air mata ku menetes.dadaku semakin sesak.
            “Jangan nangis Ra...,lagian kalo gue ada di Rumah Sakit juga gak ada hasilnya. Penyakit ini sudah menyita waktu gue,9 bulan di RS bikin gue kangen rumah,gue  pengen menikmati sisa hidup ini dirumah,sama Ayah,Bunda,Diego,Tante Helena,Om Fahri dan LOE pastinya” celoteh Joana ringan.
            “husst.....ngomong apaan sih ???menikmati sisa hidup... jangan ngomong gitu aahh....,Gue yakin,loe pasti sembuh kok!! “
            “Harapan kosong. Seandainya gue bisa sembuh,nantinya juga pasti akan mati,manusia gak ada yang kekal Ra.... “
            Kamipun terdiam,tenggelam didalam pikiran masing-masing. Terdengar suara guntur menggelegar. Tetesan-tetesan air mulai membasahi bumi.
            “Waaahhh....hujan Raa.... “ teriak Joana yang langsung berlari menuju jendela kamarnya. Sudah kuduga Joana akan seperti itu. Dari kecil dia suka hujan,baginya hujan adalah berkah. Jika hujan dia tidak akan menyiram kebunnya,saat hujan dia tidak akan di paksa bundanya untuk mengantar ke salon,dan banyak hal yang disukainya saat hujan,salah satunya adalah membaca komik sambil tiduran dan memandang hujan lewat jendela kamar. Itulah Joana.
            “Di RS gak ada jendelanya,jadi kalo hujan gak bisa liat deh... “ ujarnya sambil mengulurkan tangannya keluar jendela,membiarkan tangannya dibasahi air hujan. Senyumnya tampak mengembang bahagia.
            “Udah deh....ntar masuk angin lho,cepet tutup jendela sama gordennya,dingin tau.... !! hooaammmh.... ngantuk nih.... “
            “iya-iya nona BESAR !! “ canda Joana.
            “ih,.. nona besar ??? jangan mentang-mentang gue gendut trus dibilang BESAR yea ???? “
            “ emang gendut,hweeekkk ^,^ “ ujar Joana sambil berlari menuju ranjang dan membenamkan dirinya didalam selimut. Setelah menutup jendela,akupun mengejarnya. Kamipun saling menggelitik dan tertawa.
Hingga kami kecapaian dan berhenti. Kamipun memutuskan untuk tidur seranjang. Dikamar Joana tersedia 2 ranjang yang memang biasa aku pakai karena seringnya menginap dirumah Joana.
Halilintar menggelegar. Hujan masih turun dengan derasnya. Kudengar helaan nafas Joana yang panjang dan hembusannya yang tampak ringan. Joana tidak seperti orang sakit pada umumnya,justru dia terlihat kelebihan energi.
Sebelum dirawat di Rumah Sakit,Joana tetap bersekolah seperti biasa. Saat rambutnya mulai rontok,dia selalu membawa topi di ranselnya. Joana menganggap sekolah,keluarga dan teman adalah hidupnya. Joanapun menjalani hari-harinya seperti biasa,hingga dokter menyuruhnya untuk dirawat intensif di Rumah Sakit. Diapun menerima dengan lapang dada. Keluarga dan teman-temannya selalu menjenguk,Joana tidak pernah merasa kesepian.
“Ra ? udah tidur ?” tanya Joana,memecah keheningan malam.
“Belom,Loe ndiri dah tidur ?” tanyaku idiot
“Yeee...gue kan tanya tadi,berarti ya belom tidur blo’on “
“Oh iya ya.” Jawabku polos
“Sera.. ? “
“hemm... ?”
“Loe mau janji satu hal ? “
“Janji apa ? buat nyiram tanaman loe,huuu males aaah... “
“Bukan itu.. “
“Trus apa ?”
“Ntar kalo gue gak ada... “
Seketika itu aku langsung bangun dan mengubah posisi tidur dengan posisi duduk.
            “Bosen tau.... loe ngomongin ituuuu muluuu “ ujarku sebal. Joana juga ikut-ikutan bangun dan duduk disampingku.
            “Bukan gitu,dengerin deh please.... “ Joana memohon dengan muka memelas.
            “iya deh... iya... apa ? “
            “Ntar kamu sering-sering ke sini yea ? trus nginep disini,biar bunda ada yang nemenin,biar ayah ada yang ngajakin ngobrol,biar Diego bisa minta tolong bikinin PRnya “
            “Kok gitu ? kan ada loe,ngapain bawa-bawa gue ?“
            “yea loe bantuin gue donk,jadi mulai besok loe siramin tanaman gue ya,hwehehe,....”
            “idiiihhh.....maless “ jawabku sambil tiduran dan menutupi muka dengan selimut.
            “aahhh....dasar gendut males,awas ya kalo tanaman gue layu semua,ntar gue cubit perut lemak loe....” dengan riang dia mencubit perutku.
            “aadaaaw....!!! “
            “Hahahahahahaha.... “
            Akhirnya kami pun tertidur. Mungkin tawanya akan selalu kurindu,karena tawa itu adalah tawa terakhirnya. Pagi hari Joana drop lagi dan di bawa ke Rumah Sakit. Keadaannya semakin memburuk,sore harinya Joana dinyatakan meninggal dunia. Kami semua menagis. Alampun ikut menagis. Hujan mulai membasahi bumi. Joana pernah bilang jika hujan itu adalah berkah,mungkin ini adalah berkah terindah untuknya. Hujan mengiringi kepergian Joana. Jo... mungkin disana kamu akan lebih dekat melihat hujan. Tunggu aku Jo,kelak jika saat ku tiba,aku akan menemanimu bermain hujan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku dan kejadian sepintas lalu

Perihal teman

Setengah hati